Benarkah Semakin Kecil Nilai THD, Amplifier Semakin Bagus?

Benarkah Semakin Kecil Nilai THD, Amplifier Semakin Bagus?

Interview

Fakhrizal M

nilai thd amplifier riviera

Saat memilih amplifier, salah satu spesifikasi yang paling sering diperhatikan adalah Total Harmonic Distortion (THD). Nilai THD amplifier adalah metrik yang mengukur seberapa besar distorsi atau penyimpangan sinyal output amplifier dibandingkan dengan sinyal inputnya. Nilai THD dinyatakan oleh persentase, seperti 0,5%, 0,1%, 0,005%, atau 0,001%.

Kebanyakan orang menganggap semakin kecil nilai THD amplifier, semakin berkualitas juga suara yang dihasilkan. Artinya, sinyal output amplifier lebih bersih, akurat, dan jelas. Namun, apakah telinga manusia benar-benar mampu membedakan distorsi yang sangat kecil?

Untuk menjawab pertanyaan ini kami berkesempatan untuk mewawancarai salah satu owner Riviera Audio Lab, yaitu Silvio Delfino. Reviera Audio Lab sendiri adalah merek yang berfokus untuk mengembangkan electronics di dunia audio, seperti amplifier, pre-amp, power amplifier, dan headphone amplifier. Karena itu, Silvio punya pandangan menarik terkait nilai THD pada amplifier yang tentunya diterapkan pada setiap produk dari Riviera.

Perspektif Baru dalam Membuat Amplifier

Saat ini banyak produsen amplifier yang berfokus pada pengukuran teknis. Namun, menurut Silvio ada hal yang jauh lebih penting dibandingkan hanya pengukuran teknis. 

“Tentu saja pengukuran sangat penting, tetapi kami percaya masih ada satu hal yang belum diperhitungkan dengan baik, yaitu: bagaimana manusia benar-benar mempersepsikan suara.” Ucap Silvio.

Sejak tahun 1930-an, para engineer terus berfokus membuat amplifier dengan meningkatkan power dan menurunkan distorsi. “Masalahnya, filosofi itu terus dipertahankan bahkan ketika amplifier modern sudah memiliki tenaga besar dan distorsi yang nyaris nol. Tapi tidak ada yang bertanya apakah kita sudah di jalur yang tepat?” Ucap Silvio.

“Hingga sampai di tahun 2000an, kita memiliki model ilmiah mengenai cara kerja pendengaran manusia. Kini kita memiliki alat untuk memahami bagaimana manusia mendengar. Karena itu pendekatan desain amplifier juga seharusnya ikut berubah.” Lanjut Silvio

Bagi Silvio Delfino dan Luca Chiomenti, rekannya yang untuk membangun Riviera Audio Lab, seharusnya amplifier dibuat dengan konsep human-centric atau berpusat pada manusia.

“Karena pada akhirnya amplifier dibuat untuk menggerakan speaker dari musik yang diputar, yang akan didengarkan oleh manusia. Jadi, kita tidak mungkin mengabaikan bagaimana cara manusia mendengar.” Ucap Silvio.

Maka dari itu, bagi Riviera, yang paling penting dari sebuah amplifier bukan hanya parameter pengukuran seperti THD, tapi juga bagaimana persepsi pendengaran manusia. 

“Sampai hari ini belum ada penelitian ilmiah yang benar-benar mampu menghubungkan seluruh parameter pengukuran amplifier dengan persepsi pendengaran manusia. Akibatnya, selama bertahun-tahun industri hanya berfokus pada kuantitas, bukan kualitas pengalaman mendengar.” Ucap Silvio.

Silvio mencontohkan jika ada 2 amplifier dengan nilai THD 0,001% dan 1%, kebanyakan orang menganggap amplifier yang lebih baik adalah yang punya THD 0,001%. Padahal kenyataannya tidak selalu seperti itu.

“Yang lebih penting bukan hanya seberapa besar distorsinya, tetapi jenis harmonik dari distorsi tersebut. Ada jenis distorsi yang sangat mudah dikenali telinga manusia, sementara jenis lain hampir tidak terdengar sama sekali. Jadi bukan hanya soal jumlah distorsi, tetapi juga karakter distorsi itu sendiri.” Kata Silvio.

Bagaimana Riviera Memanfaatkan Distorsi?

Silvio Delfino dan Luca Chiomenti (Owner Riviera Audio Lab)

Ketika Silvio dan Luca menyadari hal itu, mereka tidak berusaha menciptakan amplifier yang bebas distorsi. Justru mereka memanfaatkan distorsi yang tercipta.

“Setiap amplifier pasti mengalami distorsi pada suatu titik, karena amplifier yang sempurna (tanpa distorsi sama sekali) tidak pernah ada. Yang kami lakukan bukan menghilangkan distorsi sepenuhnya,” ucap Silvio. “Sebaliknya, kami mendesain amplifier agar ketika distorsi muncul, bentuk distorsinya menyerupai karakter alami sistem audio itu sendiri.”

Dengan begitu, Silvio berkeyakinan kalau distorsi yang tercipta itu bisa dianggap oleh otak manusia sebagai bagian alami dari sistem reproduksi suara. Sehingga, amplifier yang mereka buat tidak menghasilkan negative feedback sama sekali. 

Untuk membuat amplifier tanpa feedback, Riviera memilih menggunakan class A, vacuum tube, transistor, dan MOSFET.

“Kombinasi inilah yang memungkinkan kami mengontrol karakter harmonik ketika distorsi akhirnya terjadi. Tujuannya bukan untuk menghasilkan distorsi, tapi untuk memastikan jika distorsi memang terjadi, maka bentuknya adalah bentuk yang paling alami bagi telinga manusia.” Ucap Silvio.

Desain Amplifier Riviera

desain amplifier Riviera

Selain tentang distorsi, yang sering menjadi miskonsepsi dari produsen amplifier adalah mendesainnya seolah-olah amplifier bekerja sendirian.

“Padahal ketika speaker terhubung, keduanya menjadi satu sistem yang utuh,” ucap Silvio. “Karena itu kami memberi perhatian besar pada desain power supply.

Riviera juga mempunyai pendekatan desain yang berbeda. Alih-alih menggunakan satu kapasitor besar, mereka memilih menggunakan kapasitor kecil.

“Sebagian berada di power supply sebagai filter, sebagian lagi ditempatkan sangat dekat dengan MOSFET output,” ucap Silvio. “Hasilnya, suplai energi jauh lebih cepat sehingga aliran musik jadi lebih mulus.”

Selain itu, Reviera juga concern dengan layout PCB. Silvio menjelaskan bahwa layout adalah faktor yang menentukan apakah amplifier benar-benar bekerja sesuai desain atau tidak.  

Produk-Produk Riviera

produk power amplifier Riviera

Filosofi dan desain tersebut diterapkan di seluruh lini produk Riviera. Menurut Silvio, setiap amplifier menggunakan rangkaian inti yang sama sehingga karakter suaranya tetap konsisten.

“Perbedaannya hanya pada output power, kualitas transformer, komponen, dan power supply. Namun, rangkaian intinya tetap identik,” ucap Silvio. “Karena jika rangkaiannya diubah, karakter harmonik yang telah kami rancang juga akan berubah.”

Bahkan setiap unit Riviera masih dibuat secara handcrafted di Italia untuk menjaga kualitasnya. Beberapa produk flagship Riviera di antaranya: preamplifier tabung APL01, monoblock AFM100SE bertenega besar yang memiliki VU meter di panel depan, dan power amplifier stereo AFS32 dengan desain hibrida.  

Penutup

Itulah wawancara kami bersama Silvio Delfino dari Riviera Audio Lab. Dari percakapan tersebut kami mendapatkan perspektif baru tentang amplifier. Bagaimana mereka mengembangkan perangkat audio yang tetap berpusat pada manusia sebagai penggunanya.

Kalau kamu tertarik dengan pembahasan seputar audio, jangan lupa subscribe YouTube Logisonic untuk mendapatkan edukasi dan informasi berupa video yang menarik. Kamu juga bisa mendapatkan berbagai produk HiFi, mulai dari speaker, subwoofer, amplifier, AVR, dan lainnya dengan datang ke Listening Gallery by Logisonic yang terletak di Ruko Victoria Lane No.7, Alam Sutera. Informasi mengenai promo, ketersediaan barang, dan lainnya, bisa kamu dapatkan dengan hubungi kami di nomor 0811-899-5380 atau klik link berikut ini.

Ingin kerja sama?

Kami terbuka untuk kolaborasi brand dan partnership seputar audio & home entertainment.

HiFi for everyone!

Dante Certification Level 3

Dante Level 3
Certified

Dirac Live
Official Reseller

Experience Center

Ruko Victoria Lane, No.7
Alam Sutera, Kota Tangerang, Banten 15143, Indonesia

© 2024-2026 CV Logisonic Indonesia

HiFi for everyone!

Dante Certification Level 3

Dante Level 3
Certified

Dirac Live
Official Reseller

Experience Center

Ruko Victoria Lane, No.7
Alam Sutera, Kota Tangerang, Banten 15143, Indonesia

© 2024-2026 CV Logisonic Indonesia

HiFi for everyone!

Dante Certification Level 3

Dante Level 3
Certified

Dirac Live
Official Reseller

Experience Center

Ruko Victoria Lane, No.7
Alam Sutera, Kota Tangerang, Banten 15143, Indonesia

© 2024-2026 CV Logisonic Indonesia